Pages

  • Home
  • Contact
  • Shop
instagram facebook twitter linkedin

FRHN Blog

    • Home
    • About
    • _Trendy
    • _Latest
    • Contact

    Halo! Apa kabar kalian semua? Semoga kalian semua baik - baik aja yaah. Pagi ini saya mau berbagi informasi seputar perkuliahan bagi kalian yang ingin melanjutkan S2 di kota Palembang saya mengrekomendasikan untuk daftar ke Perguruan Tinggi Swasta Stisipol Candradimuka Palembang karena telah resmi membuka Prodi Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi yang dimulai perkuliahan perdana tahun ajaran 2019 atau September ini. Ketua Stisipol Candradimuka Palembang, Dr. Hj. Lishapsari Prihatini, M.Si, Telah memperoleh SK berdirinya Magister Ilmu Komunikasi dari Dikti yang diserahkan 15 Maret 2019 lalu di Bandarlampung.

    Dan STISIPOL Candradimuka Palembang sebelumnya sudah Memiliki Program S2 Administrasi Publik. Lalu sejak tahun 1973 an. Bagi kalian yang ingin mengambil S1 di STISIPOL Juga telah mendirikan S1 dengan 4 jurusan dimulai pada tahun 1973an. Empat program studi S1 antara lain Program Prodi Ilmu Komunikasi, prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Prodi Ilmu Administrasi dan Prodi Ilmu Politik. 

    Mari lanjut lagi ke S2 nya hehe, Di Magister Ilmu Komunikasi memiliki  konsentrasi Program Studi Komunikasi Politik dan Corporate & Marketing Communication. Bagi kalian yang berminat dan ingin mendalami pembelajaran nya sangat cocok sekali memilih jurusan dan melanjutkan studi S2  di STISIPOL Candradimuka Palembang terlebih dosen - dosen nya pun telah berpengalaman di bidang nya.Untuk Masa studi S2 nya hanya dua tahun dengan gelar Magister Ilmu Komunikasi ( M.I.Kom).

    Ketua Prodi Magister Ilmu Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang ialah  Budi Santoso M.Comn, dan ketika ditanya wartawan dalam kesempatan itu, mengemukakan perlu dihayati bahwa era sekarang ini, sangat begitu pernting memiliki skill di bidang ilmu komunikasi.
    Satu aksioma komunikasi populer berbunyi ” one cannot not communicationa.” Artinya bahwa seseorang tidak dapat tidak berkomunikasi. Dengan begitu memberikan makna bagi kita, bahwa tidak dapat menghindari diri dari berkomunikasi. Apalagi dalam era distruptif industri 4.0, muncul berbagai jenis komunikasi yang menyesuaikan era.
    Untuk informasi Perkulihan akan dimulai September 2019 dengan jadwal Rabu dan Kamis Pkl 08.00 sampai selesai. Dan Pkl 16.30 sampai selesai untuk Kelas Reguler. Sedangkan kelas non reguler pada hari Sabtu mukai Pkl. 08.00 sampai selesai. Tentunya dengan fasilitas yang cuku dan ruang ber AC.

    Bagi kalian yang ingin mendaftar bisa langsung datang ke Gedung Stisipol Candradimuka Palembang di Jl. SWADAYA Skip Ujung Palembang. Atau bisa menghubungi Budi Santoso, Hp 081274730001 dan ibu Lady Havivi 081780456 dan Virna Hp 081322445042
    Continue Reading

    Di blog kali ini saya akan berbagi kisah menarik yaitu ulang tahun dosen pengampu mata kuliah Metode Penelitian Kualitatif saya ialah SUMARNI BAYU ANITA, S.Sos, M.A, lahir di Prabumulih 8 Maret 1984. Ia besar dan kini tinggal di Palembang. Kuliahnya ia tamatkan di D3 PR UGM, S1 Ilmu Komunikasi UNS, dan S2 Kajian Budaya dan Media UGM. Kini, ia menjadi dosen dan Ketua Jurusan Ilmu Komunikasi di STISIPOL Candradimuka.  Beliau memasuki umur ke tiga puluh lima tahun (35thn) sekarang , Masih tetep awet muda serta memiliki jiwa anak muda yang semangat nya powerful dalam terus berkarya. 
    Sumarni Bayu Anita atau yang lebih akrab disapa oleh mahasiswa dengan sebutan ‘’ Bu nita’’ Merayakan ulang tahun nya bersama mahasiswa/i REG Pagi Semester 6 Jurusan Ilmu Komunikasi ketika usai menyelsaikan proses belajar mengajar di kelas C1 Gedung C STISIPOL Candradimuka. 
    Mahasiswa/i membuat sebuah kejutan dengan membawa kue brownies coklat dengan ketiga lilin di atas nya, Sontak membuat mata berkaca – kaca oleh mahasiwa/i terharu karena melihat beliau turut bahagia menyaksikan suprise yang dirayakan oleh Mahasiwa tercinta nya. Ketika kue telah di tangan beliau sambil meniup lilin nya di iringi oleh mahasiswa dengan nyanyian ‘’selamat ulang tahun’’ dan beberapa orang mengdokumentasikan moment tersebut di gadget nya masing – masing. 
    Setelah itu beliau mengajak semua mahasiwa/i di kelas nya pada saat itu untuk berphoto bersama dalam mengabadikan moment bahagia tersebut dengan ekspresi lucu dan senyuman hangat dari wajah – wajah bahagia itu
    Continue Reading


    Connext Conference Palembang menghadirkan berbagai narasumber inspiratif yang telah sukses di bidangnya masing-masing yaitu Alexander Zulkarnain (Brand Happiness Hero PAXEL) , Billy Boen (Founder Young On Top) , Maya Arvin (Chief Commercial Officer , QLUE Author , Career First. Di event ini bukan hanya menginspirasi saja bahkan mengadakan sebuah lomba bersama teh botol sosro dengan vidio dan photo sekreatif mungkin dengan tema lingkungan kampus, Serta hadiah yang menarik membuat para peserta YOT semakin antusias dalam mengikuti rangkaian acara ini. 



    Peserta yang hadir mencapai 800-1000 peserta , Connect Conference Palembang memberikan inspirasi kepada Anak Muda untuk terus berkarya. Connext Conference Palembang ini diselenggarakan pada Sabtu 9 Maret 2019 di The Sultan Convention Center, Palembang.Pesan yang saya ambil pada saat seminar salah satu dari narasumberialah Founder Young On Top, Billy Boen mengatakan bahwa anak muda di Indonesia memiliki banyak potensi yang sangat bagus. 


    Namun banyak dari mereka yang belum menyadari talenta yang dimilikinya sejak dini. “Misi Young On Top  adalah untuk membantu anak muda mencapai kesuksesannya di usia muda dengan memberikan inspirasi melalui berbagai program pengembangan diri secara berkelanjutan,” katany. Melalui para narasumber dengan berbagai pengalaman suksesnya ini, para peserta diharapkan dapat memaksimalkan potensi dan melakukan segala sesuatu dengan dedikasi dan kesungguhan hati. “Kalau kamu melakukan dengan sungguh-sungguh, kesuksesan akan kamu peroleh, apapun karir yang kamu pilih. Yang penting sebetulnya bukanlah bagaimana kamu bisa dengan cepat menjadi kaya. Lebih penting dari itu semua adalah sebetulnya bagaimana kamu bisa sukses tetapi tetap bisa menjaga integritas. Saya ingin Indonesia dipenuhi oleh orang-orang yang berintegritas," ujarnya.





    Continue Reading

    Palembang, 24 Maret 2019 bertepat di Palembang Indah Mall diadakan Talk Show dengan Bintang Tamu pembica Elysa Dian Thamrin selaku Direktur Utama Thamrin Group dan Gofar Hilman sebagai Creativepreneur.

    Elysa Dian Thamrin menjadi sosok wanita hebat yang sukses memimpin 12 Kantor bisnis perusahaan di Thamrin Group.dalam mengelola Perusahaan , Elysa harus memiliki integritas, mendengarkan masukkan konsumen dan menerima masukan karyawan. Kesibukan dia yang padat tidak menyurutkan semangat Elysa Dian Thamrin untuk tetap menyuarakan kepedulian terhadap perempuan dan dunia Pendidikan. 

    Pembicara Kedua adalah Gofar Hilman yang lebih dikenal sebagai seorang actor, MC, penyiar Radio dan sekarang merupakan Vlogger, dimana lebih dikenal pada akun youtube nya Gofar Hilman dengan konten Youtube #SEKUTOMOTIF. PADA KESEMPATAN INI Gofar Hilman memberikan Tips dan Trik dalam membuat Vlog. “mulai dulu. Jangan mikir subscriber, jangan mikir uang”. Buat konten jangan yang terlalu didramatisir, konten bisa muncul tanpa disadari. Seperti Gofar yang mengangkat konten tentang bengkel-bengkel kecil. Gofar menjadikan akun youtube nya sebagai sarana untuk berbagi ilmu dan memberikan pesan kepada orang-orang yang ingin memodifikasi kendaraan mereka. Semoga talk show ini memberikan manfaat bagi kita semua.
    Continue Reading


    Broadcast adalah suatu proses pengiriman sinyal ke berbagai lokasi secara bersamaan baik melalui satelit, radio, televisi, komunikasi data pada jaringan dan lain sebagainya, dan bisa juga didefinisikan sebagai layanan server ke client yang menyebarkan data kepada beberapa client sekaligus dengan cara paralel dengan akses yang cukup cepat dari sumber video atau audio
    Broadcasting, atau penyiaran radio dan televisi adalah media massa, alat yang dipakai untuk berkomunikasi dengan orang banyak. Distribusi program radio (audio) dan televisi (video) disampaikan dengan transmisi kepada pendengar dan penonton. Setelah masa kepemimpinan Soeharto, perkembangan jumlah stasiun radio dan televisi sangat pesat sehingga banyak pekerja kedua media ini yang tidak mengenyam ilmu broadcasting.


    Kalimat broadcasting berlaku pada dunia pertelevisian dan radio. Dimana duniabroadcasting ini selalu menarik perhatian bagi masyarakat khususnya untuk kalangan remaja. Jenis produksi yang diproses oleh perusahaan broadcasting antara lain : Profile Perusahaan (Corporate Profile), Program Televisi (TV Program), Musik Video (Video Clip), Iklan Televisi (TV Comercial).




    Pada tanggal 12 februari 2018 di aula Ismail Djalili Radio Elshinta berkerja sama dengan GenPI SumSel Mengadakan Seminar Broadcasting dan Talkshow Interaktif.



    Seminar Broadcasting Radio dan Talkshow Interaktif Bersama Genpi Sumsel yang diadakan oleh salah satu radio ternama di Palembang yaitu Elshinta FM sebagai bentuk dari kerjasama antara radio Elshinta dan GenPI SumSel. Kegiatan ini dilaksanakan dalam rangka HUT Radio Elshinta yang Ke-19 yang bekerjasama dengan Ilmu Komunikasi STISIPOL Candradimuka, GenPI SumSel dan Himakom STISIPOL Candradimuka Palembang.



    Seminar Broadcasting Radio kali ini diisi Anggun Prisma (Anchor Elshinta Palembang) dan Haris Ansor (Pemenang Pembaca Berita Radio KPID Sumsel Award 2018) sedangkan Talkshow Interaktif nya bersama Sumarni Bayu Anita, S.Sos, M.A (Ketua Umum GenPI SumSel) sukses dilaksanakan di Aula Ismail Djalili STISIPOL Candradimuka Palembang, Selasa, 12 Februari 2019. Acara ini lebih banyak menceritakan bagaimana dunia public speaking dan broadcasting itu seperti apa. Dihadiri oleh mahasiswa yang tertarik dengan dunia Public Speaking dan Broadcasting, acara ini lebih tepat terbilang sebagai pembekalan awal untuk mahasiswa yang hendak terjun kedunia Public Speaking dan Broadcasting khusus di dunia penyiaran radio.



    Selain seminar yang diberikan, acara ini juga menyuguhkan sebuah hiburan dengan menghadirkan penampilan lawak dari Komunitas Wong Gerot, Pelaksanaan Lomba Presenter Radio di Studio TV Candradimuka, serta pengumuman Lomba Presenter Radio dan Lomba Vlog. Saya sangat bangga bisa turut hadir dalam acara tersebut, karena dengan adanya acara tersebut kita dapat terhibur sekaligus belajar mengembangkan potensi kita dalam berbicara di depan publik. Begitulah yang saya rasakan dalam menghadiri acara Seminar Broadcasting Radio yang diselenggarakan di STISIPOL Candradimuka pada hari itu. Berkesan dan menyenangkan.
    Continue Reading

    Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif bisa dilihat dari beberapa segi. Dalam postingan kali ini saya akan jelaskan perbedaan keduanya secara ringkas. Namun sebelumnya, perlu diingat bahwa kedua metode atau pendekatan penelitian tersebut tidak selamanya saling bertentangan satu sama lain. Keduanya, pada beberapa hal juga memiliki kesamaan atau kemiripan.
    Peneliti, apalagi yang pemula, seringkali mendasari pilihan metode penelitian yang diterapkan didasarkan pada keinginan dan kemampuannya saja. Memang, sebenarnya tidak ada salahnya, mereka yang minat pada penelitian kualitatif, memilih pendekatan kualitatif. Begitu juga sebaliknya. Persoalannya adalah, pemilihan metode riset biasanya dilakukan semata-mata hanya karena bisa atau suka, tanpa mempertimbangkan aspek espitemologis.
    Aspek espetimologis adalah bagaimana jawaban pertanyaan penelitian bisa diketahui. Jadi, pemilihan metode penelitian tergantung pertanyaan penelitian yang diajukan.
    Penjelasan tentang perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif akan dipaparkan di sini dalam bentuk tabel agar lebih mudah dipahami. Sebagaimana yang telah disinggung diawal, perbedaan keduanya dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain:

    • Desain penelitian
    • Tujuan penelitian
    • Teknik pengumpulan data
    • Instrumen penelitian
    • Jenis data
    • Sumber data
    • Ukuran sampel
    • Analisis data
    • Relasi peneliti dengan subjek penelitian
    • Rekomendasi


    Beberapa segi atau komponen penelitian tersebut eksis di dua pendekatan riset. Tabel berikut ini merupakan hasil simplifikasi mengenai perbedaan antara metode penelitian kualitatif dan kuantitatif.

    Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif

    Setiap pendekatan penelitian memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Tidak ada yang sempurna, kedua pendekatan penelitian tersebut sama-sama memiliki potensi bias. Masing-masing metode juga punya sama-sama memiliki cara untuk mereduksi potensi bias. Dalam penelitian sosiologi, pilihan terhadap metode atau pendekatan penelitian menjadi tidak penting apabila keputusannya didasarkan pada pertanyaan penelitian.Berdasarkan tabel diatas, kita bisa simak bahwa kedua pendekatan itu memiliki beberapa perbedaan yang cukup signifikan. Bahkan beberapa poin menunjukkan saling bertentangan. Perbedaan penelitian kualitatif dan kuantitatif sebagaimana yang telah diuraikan dalam tabel di atas, hanyalah perbedaan karakteristik. Pada praktiknya, peneliti bisa melibatkan keduanya, dengan proporsi yang berbeda tentunya. Misal, data kualitatif hanya sebagai pendukung data kuantitatif, atau sebaliknya.

    Simpulan

    Pendekatan atau metode mana yang paling sesuai sangat tergantung pada seperti apa rumusan masalah penelitian yang diangkat. Jika rumusan masalah yang diangkat bisa dijawab dengan pendekatan kualitatif, maka pendekatan kuantitatif ditinggalkan. Begitu pula sebaliknya. Dalam banyak kasus, pertanyaan penelitian yang diusulkan bisa dijawab dengan kombinasi keduanya, maka metode campuran bisa diterapkan.
    Dalam kelas metode penelitian sosial yang pernah saya ambil sewaktu kuliah, dijelaskan bahwa pendekatan kuantitatif mampu menangkap gejala atau fenomena sosial yang general. Sedangkan pendekatan kualitatif mampu mengeksplorasi fenomena sosial khusus secara detail. Tak jarang proyek penelitian sosial mengaplikasikan keduanya. Tidak melulu dengan cara menerapkan kombinasi metode, namun penerapan keduanya bisa dengan saling support.
    Metode kuantitatif memberi penjelasan yang general, sedangkan metode kualitatif memberi penjelasan eksploratif yang detail. Keduanya sangat bermanfaat dalam penelitian sosial.
    Continue Reading



    Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Di sinilah kita membayangkan fungsi media sebagai institusi sosial yang tidak melihat publik semata-mata sebagai konsumen.

                Dan Agenda Setting Theory adalah teori yang menyatakan bahwa media massa merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.
    Dua asumsi dasar yang paling mendasari penelitian tentang agenda setting adalah:
    (1) masyarakat pers dan mass media tidak mencerminkan kenyataan; mereka menyaring dan membentuk isu;
    (2) konsentrasi media massa hanya pada beberapa masalah masyarakat untuk ditayangkan sebagai isu-isu yang lebih penting daripada isu-isu lain;
    Salah satu aspek yang paling penting dalam konsep agenda setting adalah peran fenomena komunikasi massa, berbagai media massa memiliki penentuan agenda yang potensial berbeda termasuk intervensi dari pemodal
    Teori agenda setting pertama kali dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and The Picture in Our Head” yang sebelumnya telah menjadi bahan pertimbangan oleh Bernard Cohen (1963) dalam konsep “The mass media may not be successful in telling us what to think, but they are stunningly successful in telling us what to think about“. Penelitian empiris ini dilakukan Maxwell E. McCombs dan Donald L. Shaw ketika mereka meneliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan, walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita. Itu terjadi ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita. Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, mereka juga belajar sejauh mana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa.
    Walter Lipmann pernah mengutarakan pernyataan bahwa media berperan sebagai mediator antara “the world outside and the pictures in our heads”. McCombs dan Shaw juga sependapat dengan Lipmann. Menurut mereka, ada korelasi yang kuat dan signifikan antara apa-apa yang diagendakan oleh media massa dan apa-apa yang menjadi agenda publik.
    Menurut McCombs dan Shaw, “we judge as important what the media judge as important.” Kita cenderung menilai sesuatu itu penting sebagaimana media massa menganggap hal tersebut penting. Jika media massa menganggap suatu isu itu penting maka kita juga akan menganggapnya penting. Sebaliknya, jika isu tersebut tidak dianggap penting oleh media massa, maka isu tersebut juga menjadi tidak penting bagi diri kita, bahkan menjadi tidak terlihat sama sekali.
    McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab terhadap hampir semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat.
    Akan tetapi, kritik juga dapat dilontarkan kepada teori ini, bahwa korelasi belum tentu juga kausalitas. Mungkin saja pemberitaan media massa hanyalah sebagai cerminan terhadap apa-apa yang memang sudah dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun demikian, kritikan ini dapat dipatahkan dengan asumsi bahwa pekerja media biasanya memang lebih dahulu mengetahui suatu isu dibandingkan dengan masyarakat umum.
    News doesn’t select itself. Berita tidak bisa memilih dirinya sendiri untuk menjadi berita. Artinya ada pihak-pihak tertentu yang menentukan mana yang menjadi berita dan mana yang bukan berita. Siapakah mereka? Mereka ini yang disebut sebagai “gatekeepers.” Di dalamnya termasuk pemimpin redaksi, redaktur, editor, hingga jurnalis itu sendiri.
    Setelah tahun 1990an, banyak penelitian yang menggunakan teori agenda-setting makin menegaskan kekuatan media massa dalam mempengaruhi benak khalayaknya. Media massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu, kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Para ilmuwan menyebutnya sebagai framing.
    McCombs dan Shaw kembali menegaskan kembali tentang teori agenda setting, bahwa “the media may not only tell us what to think about, they also may tell us how and what to think about it, and perhaps even what to do about it” (McCombs, 1997).
    Menurut teori agenda setting, media massa memang tidak dapat mempengaruhi orang untuk berubah sikap tetapi dengan fungsinya sebagai gate keeper (penjaga gawang atau penyaring) yang memilih suatu topik dan persoalan tertentu dan mengabaikan yang lain. Dengan menonjolkan suatu persoalan tertentu dan mengesampingkan yang lain, media membentuk citra atau gambaran dunia seperti yang disajikan dalam media massa. (Rakhmat, 1989:259-260), ini berarti media massa cukup berpengaruh terhadap apa yang dipikirkan orang dan mempengaruhi persepsi khalayak tentang yang dianggap penting.
    Bernard Coher, (1963) seorang ahli politik dengan singkat menyatakan asumsi dasarnya mengenai agenda setting, menurutnya :
    “Media massa lebih sekedar memberi informasi atau opini media massa mungkin saja kurang berhasil mendorong orang untuk memikirkan sesuatu, tetapi media massa sangat berhasil mendorong khalayak untuk menentukan apa yang perlu dipikirkan”. (Rakhmat, 1989:227)
    Hampir satu dasa warsa Mc Combs dan Shaw mengemukakan agenda setting khalayak terhadap persoalan tersebut, singkatnya apa yang dianggap penting media dianggap penting oleh masyarakat dan apa yang dilupakan oleh media massa juga akan luput dari perhatian masyarakat.
    Penelitian empiris tentang teori agenda setting dilakukan oleh Mc. Combs dan Shaw ketika mereka meneliti pemilihan presiden pada tahun 1972 mereka menulis antara lain : dampak media dalam kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif diantara  individu-individu telah dijuluki sebagai fugsi agenda setting dan komunikasi massa. Disinilah terletak efek komunikasi, yang terpenting kemampuan media untuk strukrurisasi dunia untuk kita.
    Teori agenda setting dimulai dengan asumsi bahwa media massa menyaring berita, artikel, tulisan yang akan disiarkan, setiap kejadian atau isu diberi bobot tertentu dengan panjang penyajian (ruang dalam surat kabar atau waktu televisi dan radio), dan cara penonjolan (ukuran judul pada surat kabar, frekuensi penyiaran pada televisi dan radio)
    Contoh kasus Prita Mulyasari. Ibu muda yang dipenjara karena mengeluhkan pelayanan sebuah institusi melalui email di sebuah mailist. Media massa mengeksposnya. Tak ayal, dukungan dan simpati mengalir deras bagi pembebasannya. Sampai-sampai diadakannya aksi solidaritas Koin Peduli Prita dalam rangka membantu Prita dalam memperoleh uang untuk bayar denda kepada Rumah Sakit Omni Internasional sebesar Rp204.000.000,-. Alhasil sumbangan seluruh masyarakat dari seluruh Indonesia sebesar Rp825.728.550, Jumlah ini empat kali lipat melebihi denda yang harus dibayarkan Prita kepada Rumah Sakit Omni Internasional.
    Framing yang dilakukan media membuat suatu berita terus menerus ditayangkan di media sehingga muncul agenda publik. Seperti yang dikatakan Robert N. Ertman, framing adalah proses seleksi dari berbagai aspek realitas sehingga bagian tertentu dari peristiwa itu lebih menonjol dibandingkan aspek lain. Masyarakat akan menjadikan topik utama yang diangkat oleh media sebagai bahan perbincangan sehari-hari. Pengaruh dari teori agenda setting terhadap masyarakat dan budaya sangat besar. Dunia fashion mengambil kesempatan ini untuk menarik style untuk kemudian menjadikannya trendsetter. Bahkan hingga menyentuh lapisan masyarakat menengah ke bawah. Banyak dijual kaos bergambar wajah Manohara di pasaran. Popularitas Manohara di tanah air langsung melesat bak meteor. Begitu juga yang terjadi pada kasus Prita. Dampak dari media massa yang terus mem-blow up kasusnya terbentuklah opini publik yang cenderung untuk memberinya dukungan.
    Agenda setting sendiri baru menunjukan keampuhannya jika agenda media menjadi agenda publik. Lebih hebatnya lagi jika agenda publik menjadi agenda kebijakan. Bernard C. Cohen (1963) mengatakan bahwa persmungkin tidak berhasil banyak pada saat menceritakan orang-orang yang berpikir, tetapi berhasil mengalihkan para pemirsa dalam berpikir tentang apa. Kita bisa memakai media apa saja untuk membangun opini, tapi jika tidak sejalan dengan selera publik, maka isu yang dibangun dengan instensitas sekuat apa pun belum tentu efektif. Akibat dari opini yang dibangun publik mengenai dua kasus di atas, pemerintah turun tangan dalam memberikan kebijakan terhadap kasus-kasus ini.
    Continue Reading
    Older
    Stories

    About me

    Photo Profile
    M. Farhan

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • instagram
    • linkedin

    recent posts

    Blog Archive

    • Maret 2019 (15)

    Popular Posts

    • Metode Penelitian Kualitatif: GROUNDED THEORY
    • Metode Penelitian Kualitatif: NARATIF
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top