Pages

  • Home
  • Contact
  • Shop
instagram facebook twitter linkedin

FRHN Blog

    • Home
    • About
    • _Trendy
    • _Latest
    • Contact

    Definisi etnografi

    Etnografi adalah jenis metode penelitian yang diterapkan untuk mengungkap makna sosio-kultural dengan cara mempelajari keseharian pola hidup dan interaksi kelompok sosio-kultural (culture-sharing group) tertentu dalam ruang atau konteks yang spesifik. Seorang etnografer tak hanya mengamati namun juga berupaya untuk menyatu dalam kehidupan kultural suatu kelompok masyarakat yang diteliti.
    Sampai di sini, kita sudah bisa mengidentifikasi sedikitnya dua dimensi penting yaitu adanya kelompok sosio-kultural yang spesifik dan penyatuan kultural antara peneliti dengan kelompok yang diteliti.

    Apa yang diamati dan dipelajari oleh etnografer ketika penelitian?

    Dari beberapa laporan riset etnografis, saya melihat bahwa etnografer cenderung melihat pola-pola yang ada dalam kelompok sosio-kultural yang diteliti. Pola-pola tersebut meliputi pola perilaku, sistem keyakinan, bahasa dan nilai kultural yang dianut dalam kehidupan sehari-hari.
    Kelompok sosio-kultural ini tak terhitung jumlahnya dari yang paling primitif sampai modern. Sebagai contoh, kita bisa melihat suku Badui sebagai kelompok sosio-kultural. Namun kita juga bisa melihat subkultur, seperti fans JKT48, flashpacker, komunitas urban faming dan lain sebagainya sebagai kelompok sosio-kultural.
    Dengan demikian metode ini bisa diaplikasikan untuk mempelajari kelompok sosial yang terbentang luas. Perlu diingat bahwa unsur kultural yang mengikat individu menjadi satu kelompok tersebut menjadi karakteristik utama yang dikaji dalam studi dengan metode ini.

    Bagaimana melakukan studi etnografi?

    Di awal sudah saya singgung bahwa entografer selalu berusaha untuk menyatu secara kultural dengan subjek penelitian yang dikaji. Usaha penyatuan ini dilakukan salah satunya dengan cara menerapkan observasi partisipatoris.
    Penyatuan kultural yang dilakukan oleh etnografer adalah penyatuan dalam kehidupan sehari-hari masyarakat yang diteliti. Artinya, etnografer berusaha ”menjalani hidup” sebagaimana masyarakat yang diteliti hidup dengan berbagai cara seperti: bergaul dengan mereka, makan apa yang mereka makan, bahkan sering kali tinggal dan tidur dengan mereka.
    Studi etnografi tidak bisa dilakukan secara instan karena penyatuan kultural tersebut memerlukan waktu yang tidak sebentar. Tidak ada ketentuan berapa lama riset etnografi dilakukan. Hal yang paling penting adalah bagaimana peneliti berhasil immersed dengan kultur sehari-hari masyarakat setempat.
    Selain observasi partisipatoris, wawancara mendalam juga sering kali menjadi bagian dari teknik pengumpulan data studi etnografis. Wawancara ini dilakukan terutama kepada informan kunci yang memiliki peran sosio-kultural signifikan dalam kelompoknya. Bila etnografer meneliti suatu organisasi, maka pemimpin organisasi atau aktor yang senior bisa menjadi informan kunci.
    Pada prinsipnya, studi dengan metode ini memanfaatkan segala sumber daya yang tersedia dalam rangka pengumpulan data. Jadi, tak hanya observasi partisipatoris dan wawancara mendalam saja, melainkan juga penelusuran apapun termasuk dokumen berupa, gambar, video, audio, buku harian, majalah, simbol-simbol, artifak, dan segala benda yang berkaitan dengan fokus penelitian. Hal ini juga dapat dilihat sebagai upaya peneliti untuk memahami kehidupan subjek penelitiannya.
    Pada praktiknya, sering kali etnografer menyusun diary selama riset di lapangan. Diary ini digunakan untuk merekam setiap aktivitas subjek penelitian dalam keseharian yang diobservasi peneliti. Catatan detail yang tebal menjadi tipikal data lapangan yang dibuat oleh etnografer.

    Jenis penelitian etnografi

    Pakar metodologi Creswell mengidentifikasi ada beberapa jenis penelitian etnografi, seperti life-history, autoetnography, novel etnography, feminis etnography, ethnography di electronic media, pothography, video, audio dan sebagainya. Namun secara garis besar, metode penelitian ini dapat dikategorisasikan menjadi dua, yaitu etnografi realis dan kritis.

    Etnografi realis

    Tipe ini adalah tipe yang tradisional dimana peneliti berusaha memperoleh data individu atau situasi menurut sudut pandang orang ketiga. Peran orang ketiga sangat signifikan karena mampu memberi pandangan yang dianggap objektif terhadap fenomena yang diteliti.
    Tipe ini memberi kesempatan etnografer untuk menarasikan suara dari orang ketiga terkait apa yang diobservasi. Etnografer mengambil posisi di ”belakang panggung” dan memposisikan pandangan objektif partisipan sebagai sebuah ”fakta sosial”. Laporan yang disusun oleh etnografer realis ditulis dengan tanpa terkontaminasi bias personal dan politis serta justifikasi terhadap ”fakta sosial” atau disebut juga bebas nilai.

    Etnografi kritis

    Tipe ini adalah tipe yang lebih kontemporer dimana peneliti ikut menyuarakan atau mengadvokasi suara kelompok sosi-kultural yang diteliti. Etnografer kritis merespons kondisi mayarakat kontemporer yang mengasumsikan bahwa sistem relasi kuasa, prestis dan otoritas cenderung memarjinalkan individu yang berasal dari kelas, ras dan gender yang berbeda.
    Oleh karena itu, suara dari orang pertama hidup dalam situasi atau konteks yang diteliti sangat penting. Salah satu karakteristik tipe etnografi ini adalah adanya dorongan nilai emansipatoris yang diadvokasi oleh peneliti, dengan kata lain, tidak bebas nilai.

    Continue Reading
    Hasil gambar untuk studi kasus

    1. Pengertian Studi Kasus
    Menurut Bogdan dan Bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. SementaraYin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Ary, Jacobs, dan Razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting.
    Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia, peristiwa, latar, dan dokumen; (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

    2. Jenis-jenis Studi Kasus
    a. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi, dipusatkan pada perhatian organisasi
    tertentu dan dalam kurun waktu tertentu, dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Studi mi sening kunang memungkinkan untuk diselenggarakan, karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal.
    b. Studi kasus observasi, mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation), sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu.. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah; (b) satu kelompok siswa; (c) kegiatan sekolah.
    c. Studi kasus sejarah hidup, yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier, pengabdian hidup seseorang, dan lahir hingga sekarang. masa remaja, sekolah. topik persahabatan dan topik tertentu lainnya.
    d. Studi kasus kemasyarakatan, merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas), bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi.
    e. Studi kasus analisis situasi, jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu, maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait, mulai dari siswa itu sendiri, teman-temannya, orang tuanya, kepala sekolah, guru dan mungkin tokoh kunci lainnya.
    f. Mikroethnografi, merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil, seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar.

      3. Langkah-Langkah Penelitian Studi Kasus
    a. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan
     menjadikan objek orang, lingkungan, program, proses, dan masvarakat atau unit
    sosial. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal, sehingga
    dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia;

    b. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data, tetapi yang
    lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi, wawancara, dan analisis dokumentasi. Peneliti sebagai instrurnen penelitian, dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian, serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak;
    c. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi, mengorganisasi, dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. Data dapat diorganisasi secara kronologis, kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan, sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan;
    d. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul, dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru, data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada;
    e. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif, rnudah dibaca, dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas, sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehiclupan seseorang atau kelompik.

    4. Ciri-ciri Studi Kasus yang Baik
    a. Menyangkut sesuatu yang luar biasa, yang berkaitan dengan kepentingan umum atau bahkan dengan kepentingan nasional.
    b. Batas-batasnya dapat ditentukan dengan jelas, kelengkapan ini juga ditunjukkan
    oleh kedalaman dan keluasan data yang digali peneliti, dan kasusnya mampu
    diselesaikan oleh penelitinya dengan balk dan tepat meskipun dihadang oleh
    berbagai keterbatasan.
    c. Mampu mengantisipasi berbagai alternatif jawaban dan sudut pandang yang
    berbeda-beda.
    d. Keempat, studi kasus mampu menunjukkan bukti-bukti yang paling penting saja,
    baik yang mendukung pandangan peneliti maupun yang tidak mendasarkan pninsip
    selektifitas.
    e. Hasilnya ditulis dengan gaya yang menarik sehingga mampu terkomunikasi
    pada pembaca.
    Continue Reading

    Pengertian grounded theory

    Grounded theory memiliki titik berat pada riset kualitatif. Riset yang mengaplikasikan grounded theory disebut penelitian grounded. Penelitian grounded merupakan sebuah metodologi riset atau bias juga dipahami sebagai sebuah pendekatan penelitian dimana data lapangan menjadi sumber formulasi teori. Dengan kata lain, penelitian ini menggunakan teori yang muncul kemudian, disaat atau setelah data lapangan dikumpulkan.
    Untuk lebih jelasnya, saya akan uraikan secara singkat latar belakang kemunculan metode penelitian grounded agar pembaca memahami dimana letak perbedaannya dengan metode riset yang lain. Riset sosial yang berkembang belakangan, sering kali menggunakan grand theory atau teori-teori besar yang sudah matang sebagai perspektif atau paradigma penelitian. Grand teory dalam sosiologi ada berbagai macam, sebut saja teori konflik dan fungsionalisme, misalnya.
    Penerapan grand theory pada proses penelitian cenderung akan menghasilkan studi yang sifatnya verifikatif. Artinya, penelitian dilakukan untuk menguji teori yang sudah ada sebelumnya. Penelitian sosial statistik dan survey yang menggunakan hipotesis dianggap sebagai contoh baguis studi verifikatif. Model penelitian semacam itu berakibat pada munculnya ”stagnansi teori” dalam ilmu sosial. Konsekuensinya, ilmu sosial tidak dapat berkembang.
    Grounded theory atau penelitian grounded merespons kondisi tersebut dengan membalikkan logika penelitian yang berkembang. Dalam penelitian grounded, teori atau grand theory “ditinggalkan” oleh peneliti. Peneliti mengumpulkan data lapangan yang biasanya dalam bentuk kualitatif melalui wawancara mendalam dan observasi partisipatoris.
    Data tersebut menjadi dasar pembentukan teori. Dengan kata lain, teori berasal dari data di lapangan (on the ground). Oleh sebab itulah disebut grounded. Penelitian grounded membuka potensi lahirnya teori-teori baru karena data lapangan bersifat dinamis dan terus berkembang, Sedangkan teori yang sudah mapan cenderung tetap.
    Adapun klaim bahwa penelitian sosial yang bersifat verifikatif terhadap teori seperti riset survey atau statistik juga berpotensi menghasilkan teori baru. Namun teori baru tersebut bukan berasal dari data lapangan yang dinamis, melainkan dari data statistik yang statis.
    Dalam riset grounded, peneliti mengembangkan konsep-konsep yang nantinya menjadi teori di lapangan. Dari awal sampai akhir penelitian, peneliti harus terlibat secara penuh dan berada di lapangan. Berbeda dengan riset survey yang bahkan bisa dilakukan tanpa sekalipun peneliti ke lapangan.

    Continue Reading


    Fenomenologi merupakan salah satu jenis metode penelitian kualitatif yang diaplikasikan untuk mengungkap kesamaan makna yang menjadi esensi dari suatu konsep atau fenomena yang secara sadar dan individual dialami oleh sekelompok individu dalam hidupnya.
    Sebagai metode untuk mengungkap esensi makna sekumpulan individu, fenomenologi menjadi metode riset yang dekat dengan filsafat dan psikologi, serta penerapannya syarat upaya-upaya filosofis dan psikologis. Abstraksi dan refleksi filosofis kerap dipraktikkan oleh para fenomenolog dalam rangka menangkap maksud dari informan sebelum diekstrak ke dalam narasi yang mendalam.
    Fenomenologi sebagai sebuah metode riset sering dikatakan memiliki kemiripan dengan studi naratif dan etnografis. Bedanya, fenomenologi berupaya mengungkap esensi universal dari fenomena yang dialami secara personal oleh sekelompok individu.

    Definisi fenomenologi

    Sekilas di awal kita sudah singgung mengenai pengertian atau definisi fenomenologi. Studi fenomenologis dapat diseskripsikan sebagai penerapan metode kualitatif dalam rangka menggali dan mengungkap kesamaan makna dari sebuah konsep atau fenomena yang menjadi pengalaman hidup sekelompok individu.
    Fenomena yang dialami oleh sekelompok individu tentunya begitu beragam. Saya akan paparkan sedikit contoh agar pembaca ada gambaran. Ambil contoh fenomena HIV atau AIDS. Penelitian kita fokuskan pada fenomena berupa perlakuan diskriminatif yang menjadi pengalaman hidup para penderita HIV. Fokus penelitian demikian bisa dilakukan dengan mengaplikasikan metode fenomenologi.
    Studi fenomenologis tentang fenomena perlakuan diskriminatif berusaha untuk mengungkap apa kesamaan pengalaman hidup yang dialami oleh para penderita HIV/AIDS yang mendapat perlakuan diskriminatif dalam masyarakat serta bagaimana mereka mengalaminya. Data yang dikumpukan dalam studi fenomenologis berupa data teks atau narasi deskriptif, bukan eksplanasi atau analisis.

    Mengapa melakukan studi fenomenologis?

    Salah satu poin penting yang menjadi kelebihan studi fenomenologis adalah pengalaman yang tersembunyi di dalam aspek filosofis dan psikologis individu dapat terungkap melalui narasi sehingga peneliti dan pembaca seolah dapat mengerti pengalaman hidup yang dialami oleh subjek penelitian.
    Tujuan dari penelitian fenomenologis, seperti yang sudah disinggung di awal adalah mereduksi pengalaman individual terhadap suatu fenomena ke dalam deskripsi yang menjelaskan tentang esensi universal dari fenomena tersebut. Fenomenolog berupaya ”memahami esensi dari suatu fenomena”.
    Creswell memberi satu contoh esensi universal dari suatu fenomena yang menurut saya cukup mudah dipahami, yaitu duka cita. Duka cita adalah fenomena yang dialami oleh individu secara universal. Duka cita memiliki esensi universal yang dialami oleh individu terlepas dari siapa objek yang hilang atau meninggalkannya sehingga sekelompok individu tersebut berduka. Entah orang terdekatnya yang hilang atau hewan peliharaan yang disayanginya, duka cita memiliki esensi universal sehingga sangat mungkin diteliti secara fenomenologis.

    Prosedur riset fenomenologis

    Riset fenomenologis selalu berusaha untuk mereduksi pengalaman-pengalaman personal ke dalam kesamaan pemaknaan atau esensi universal (essentializing) dari suatu fenomena yang dialami secara sadar oleh sekelompok individu. Perlu dicatat sekali lagi bahwa pengalaman tersebut merupakan pengalaman individual. Peneliti mengumpulkan cerita dari sekelompok individu untuk dicari kesamaan maknanya.
    Bila kita melakukan studi fenomenologi, maka cerita oral tentang pengalaman hidup menjadi bentuk data primer yang wajib dikumpulkan. Untuk memperoleh data tersebut tentu saja dibutuhkan keterbukaan informan untuk mengungkapkan apa yang dialaminya di masa lalu. Beberapa langkah perlu dipahami ketika melaksanakan riset fenomenologis. Saya merujuk pada pendapat pakar metodologi Creswell dalam pemaparan langkah-langkah ini:
    » Pertama, peneliti memastikan bahwa apakah rumusan masalah yang dibuat relevan untuk diteliti menggunakan pendekatan fenomenologis. Rumusan masalah penelitian yang relevan menerapkan fenomenologi adalah masalah penelitian dimana sangat penting untuk memahami pengalaman pribadi yang dirasakan sekelompok individu terhadap suatu fenomena yang dialaminya. Pemahaman terhadap pengalaman tersebut sekiranya nanti dapat membantu proses mengembangkan kebijakan atau untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam terhadap fenomena yang diteliti.
    » Kedua, dalam menyusun masalah penelitian, peneliti menangkap fenomena untuk dipertanyakan maknanya bagi sekelompok individu yang mengalaminya. Misalnya, apa maknanya menjadi seorang profesional, apa maknanya menjadi korban HIV/AIDS, apa maknanya kehilangan sesuatu atau orang yang disayangi, dan lain sebagainya.
    » Ketiga, peneliti sebagai manusia harus sejauh mungkin meninggalkan pengalaman pribadinya terkait dengan fokus penelitiannya. Upaya ini disebut dengan ”bracket out”. Bracket out dilakukan untuk membantu peneliti memperoleh pemahaman sedalam dan se-objektif mungkin fenomena yang dialami secara personal oleh informan tanpa terkontaminasi oleh pengalaman peneliti sendiri. Sebagai contoh studi fenomenologis tentang orang-orang yang baru saja patah hati. Fenomenolog harus sejauh mungkin menginggalkan pengalamannya patah hati, misalnya.
    » Keempat, data fenomenologis berupa narasi deskriptif yang dikumpulkan dari cerita individu yang mengalami suatu fenomena yang diteliti. Data riset fenomenologis diperoleh dari wawancara mendalam dengan sekelompok individu. Jumlahnya tidak dapat ditentukan. Beberapa peneliti merekomendasikan antara 5-25 orang. Pertanyaan yang diajukan seorang fenomenolog bisa beragam. Tipikalnya, peneliti menanyakan tentang apa yang dialami dan bagaimana fenomena tersebut bisa dialami.
    » Kelima, proses analisis data pada prinsipnya mirip dengan analisis kualitatif lainnya, yaitu data ditranskrip, lalu dengan merujuk pada rumusan masalah, peneliti melakukan koding, klastering, labelling secara tematik dan melakukan interpretasi. Proses tersebut berlangsung bolak-balik sebagaimana analisis data kualitatif pada umumnya.
    » Keenam, masing-masing tema yang muncul dalam proses analisis mengandung narasi verbatim. Secara garis besar berupa deskripsi tekstual tentang apa yang dialami oleh partisipan dan bagaimana mereka mengalaminya. Dari deskripsi tekstual tersebut peneliti mendeskripsikan esensi universal dari fenomena yang ditelitinya. Tipikal deskripsi tektual yang disusun dalam riset fenomenologi adalah terdiri dari paragraf yang cukup panjang dan mendalam.
    Continue Reading

    Gambar terkait

    Overview Pendekatan Naratif

    Tema naratif (narrative) muncul dari kata to narrate yang artinya menceritakan atau mengatakan (to tell) suatu cerita secara detail. Dalam desain penelitian naratif, peneliti mendeskripsikan kehidupan individu, mengumpulkan, mengatakan cerita tentang kehidupan individu, dan menuliskan cerita atau riwayat pengalaman individu tertentu. Jelasnya, penelitian naratif berfokus pada kajian seorang individu.
    Menurut Daiute & Lightfoot (2004) dalam Carswell (2007) penelitian naratif mempunyai banyak bentuk dan berakar dari disiplin (ilmu) kemanusiaan dan sosial yang berbeda. Naratif bisa berarti tema yang diberikan pada teks atau wacana tertentu, atau teks yang digunakan dalam konteks atau bentuk penyelidikan dalam penelitian kualitatif (Chase, 2005).
    Penelitian Naratif menurut James Schreiber dan Kimberly Asner-Self (2011) adalah studi tentang kehidupan individu seperti yang diceritakan melalui kisah-kisah pengalaman mereka, termasuk diskusi tentang makna pengalaman-pengalaman bagi individu. Menurut Webster dan Metrova, narasi (narrative) adalah suatu metode penelitian di dalam ilmu-ilmu sosial. Inti dari metode ini adalah kemampuannya untuk memahami identitas dan pandangan dunia seseorang dengan mengacu pada cerita-cerita (narasi) yang ia dengarkan ataupun tuturkan di dalam aktivitasnya sehari-hari.
    Struktur Naratif
    Gaya naratif merupakan kekuatan dari riset kualitatif, tekniknya sama dengan bentuk story telling dimana cara penguraian yang menghablurkan batas-batas fiksi, jurnalisme dan laporan akademis, “narratives in story telling modes blur the lines between fiction, jurnalism and scholarly studies. Bentuk penelitian naratif antara lain:
    1. Menggunakan pendekatan kronologis seperti menguraikan peristiwa demi peristiwa dibentangkan secara perlahan mengikuti proses waktu (slowly over time), ketika menjelaskan subyek studi mengenai budaya saling-berbagi di dalam kelompok (a ulture-sharingg group), narasi kehidupan seseorang (the narrative of the life of on individual) atau evolusi sebuah program atau sebuah organisaasi (evolution of a program or an organization).
    2. Menyempitkan dan memfokuskan pembahasan. Laporan juga bisa seperti pendeskripsian berbagai kejadian, berdasarkan tema-tema atau persepektif tertentu. Gaya naratif, dari studi kualitatif bisa juga mengerangkakan sosial tipikal keseharian hidup seseorang (a typical day in the life)  dari sosok individu atau kelompok.
     Tipe Kajian Naratif
    Jika seorang peneliti berencana melaksanakan kajian naratif maka ia perlu mempertimbangkan tipe kajian naratif yang akan dilaksanakannya. Pendekatan pertama yang digunakan dalam penelitian naratif adalah membedakan tipe penelitian naratif melalui strategi analisis yang digunakan oleh pengarang (Creswell,2007).
    Polkinghorne dalam Cresswell menyebutkan strategi tersebut menggunakan paradigma berpikir untuk menghasilkan deskripsi tema yang menggenggam sekaligus melintasi cerita atau sistem klasifikasi tipe cerita. Analisis naratif ini menekankan peneliti untuk mengumpulkan deskripsi peristiwa atau kejadian dan kemudian mengkonfigurasikannya ke dalam cerita menggunakan sebuah alur cerita (plot).
    Chase dalam Cresswell menyajikan pendekatan yang tidak jauh berbeda dengan definisi analisis naratif milik Polkinghorne. Chase menyarankan bahwa peneliti boleh menggunakan alasan paradigmatik untuk kajian naratif, seperti bagaimana individu dimampukan dan dipaksa oleh sumberdaya sosial, disituasikan secara sosial dalam penampilan interaktif, dan bagaimana pencerita membangun interpretasi.
    Pendekatan kedua menekankan pada ragam bentuk yang ditemukan dalam praktik-praktik penelitian naratif. Kajian biografi adalah bentuk kajian naratif di mana peneliti menulis dan mencatat pengalaman kehidupan seseorang. Autobiografi ditulis dan dicatat oleh individu sebagai subjek kajian. Sejarah hidup (life histories) memotret seluruh kehidupan seseorang. Cerita pengalaman seseorang adalah kajian naratif terhadap pengalaman personal seseorang yang ditemukan dalam episode majemuk atau tunggal, situasi pribadi, atau cerita rakyat komunal (communal folklore). Sejarah lisan terdiri dari kumpulan refleksi personal terhadap kejadian dan sebab akibat kejadian tersebut dari satu atau beberapa individu. Kajian naratif bisa jadi memiliki fokus kontekstual yang spesifik, seperti guru atau murid di kelas, cerita tentang organisasi, atau cerita yang diceritakan tentang organisasi.
    Proses penelitian Naratif
    Menulis narasi adalah kolaborasi antara peserta dan peneliti. Hubungan antara peneliti dan peserta harus menjadi salah satu yang saling dibangun yang peduli, hormat, dan ditandai dengan kesetaraan suara. Peserta dalam Penelitian narasi harus merasa diberdayakan untuk menceritakan kisah mereka. Langkah-langkah melaksanakan penelitian kualitatif (Clandinin dan Connelly, 2000) adalah sebagai berikut:
    1. Menentukan problem penelitian atau pertanyaan terbaik yang tepat untuk penelitian naratif. Penelitian naratif adalah penelitian terbaik untuk menangkap cerita detail atau pengalaman kehidupan terhadap kehidupan tunggal atau kehidupan sejumlah individu.
    2. Memilih satu atau lebih individu yang memiliki cerita atau pengalaman kehidupan untuk diceritakan, dan menghabiskan waktu (sesuai pertimbangan) bersama mereka untuk mengumpulkan cerita mereka melalui tipe majemuk informasi.
    3. Mengumpulkan cerita tentang konteks cerita tersebut.
    4. Menganalisa cerita partisipan dan kemudian restory (menceritakan ulang) cerita mereka ke dalam kerangka kerja yang masuk akal. Restorying adalah proses organisasi ulang cerita ke dalam beberapa tipe umum kerangka kerja. Kerangka kerja ini meliputi pengumpulan informasi, penganalisaan informasi untuk elemen kunci cerita (misalnya: waktu, tempat, alur, dan scene/adegan) dan menulis ulang cerita guna menempatkan mereka dalam rangkaian secara kronologis.
    5. Berkolaborasi dengan partisipan melalui pelibatan aktif mereka dalam penelitian. Mengingat para peneliti mengumpulkan cerita, maka mereka menegosiasikan hubungan, transisi yang halus, dan menyediakan cara yang berguna bagi partisipan.
    Jenis-Jenis Penelitian Naratif
    Menurut Polkinghorne ada dua pendekatan yang bisa diambil yaitu pendekatan dengan membedakan antara analisis narasi dan analisis naratif dapat di pahami juga degan narasi sebagai data: data sebagai narasi. Adapun Jenis narasi (narrative) dapat dilihat dengan mengetahui pendekatan apa yang digunakan:
    1. Analisis narasi
    Analisis narasi adalah sebuah paradigma dengan cara berpikir untuk membuat deskripsi tema yang tertulis dalam cerita atau taksonomi.
    1. Analisis naratif
    Analisis naratif adalah sebuah paradigma dengan mengumpulkan deskripsi peristiwa atau kejadian dan kemudian menyusunya menjadi cerita dengan menggunakan alur cerita.
    Dari kedua pendekatan tersebut Pendekatan kedua adalah untuk menekankan berbagai bentuk yang ditemukan pada praktek penelitian naratif. Misalnya: sebuh otobiografi, biografi, dokumen pribadi, riwayat hidup, personal accounts, etnobiografi, otoetnografi. Jika peneliti merencanakan melakukan studi naratif, maka perlu mempertimbangkan jenis studi naratif apa yang akan dilakukan. Dalam studi naratif, untuk mengetahui jenis naratif apa yang akan digunakan memang penting, tetapi yang lebih penting adalah mengetahui karakteristik esensial dari tiap-tiap jenis.
    Karakteristik Kunci Penelitian Narasi
    1. Penelitian Narasi berfokus pada pengalaman individu dan kronologi mereka.
    2. Penelitian Narasi menggunakan teknik restorying untuk membangun account narasi berdasarkan data yang dikumpulkan melalui wawancara.
    3. Penelitian Narasi menggabungkan konteks dan tempat dalam cerita.
    4. Pembangunan narasi selalu melibatkan menanggapi pertanyaan, “Lalu apa yang terjadi?” (James Schreiber dan Kimberly Asner-Self, 2011)

    REFRENSI
    Creswell, John. (2007). Qualiitative Inquiry and Research Design. London: Sage.
    Continue Reading

    Jenis penelitian yang temuan - temuannya tidak diperoleh melalui prosedur statistik atau bentuk hitungan lainnya. Berusaha memahami dan menafsirkan makna suatu peristiwa interaksi tingkah laku manusia dalam situasi tertentu menurut perspektif penelit isendiri. Dilakukan dalam situasi yang wajar (natural setting).

    Metode kualitatif lebih berdasarkan pada sifat fenomenologis yang mengutamakan penghayatan (verstehen). 

    Data yang dikumpulkan umumnya bersifat kualitatif Informan dalam metode kualitatif berkembang terus (snowball) secara bertujuan (purposive) sampai data yang dikumpulkan dianggap memuaskan atau jenuh (redundancy).

    Alat pengumpul data atau instrumen penelitian dalam metode kualitatif ialah si peneliti sendiri. Jadi, peneliti merupakan key instrument, dalam mengumpulkan data, si peneliti harus terjun sendiri kelapangan secara aktif.

    Teknik pengumpulan data yang sering digunakan ialah:
    • Wawancara
    • Dokumentasi
    • Obsevasi partisipasi

    Langkah-langkah Penelitian Kualitatif
    Sebenarnya tidak ada langkah yang baku dalam penelitian kualitatif
    Karena langkah-langkahnya tidak linier seperti dalam penelitian kuantitatif, melainkan sirkuler sehingga dapat dimulai darimanapun 
    Langkah-langkah penelitian kualitatif dapat dibagi atas:
    1. Orientasi atas bacaan
    2. Wawancara kelapangan
    3. Eksplorasi: mengumpulkan data berdasarkan fokus penelitian yang sudah jelas
    4. Membercheck: memeriksakan laporan sementara penelitiannya kepada informan atau kepada pembimbing 
    Ciri-ciri metode kualitatif
    1. Sumber data berada dalam situasi yang tidak wajar (natural setting), tidak dimanipulasi oleh angket dan tidak dibuat-buat sebagai kelompok eksperimen
    2. Laporannya sangat deskriptif
    3. Mengutamakan proses dan produk
    4. Peneliti sebagai instrumen penelitian (key instrumen)
    5. Mencari makna, dipandang dari pikiran dan perasaan informan
    6. Mementingkan data langsung (tangan pertama), karena itu pengumpulan datanya mengutamakan observasi partisipasi, wawancara, dan dokumentasi
    7. Menggunakan triangulasi, yaitu memeriksakan kebenaran data yang diperoleh kepada pihak lain
    8. Menonjolkan rincian yang kontekstual, yaitu menguraikan sesuatu secara rinci tidak terkotak-kotak
    9. Subjek yang diteliti dianggap berkedudukan yang sama dengan peneliti, peneliti bahkan belajar kepada informannya
    10. Mengutamakan perspektif emic, yaitu pendapat informan daripada pendapat peneliti sendiri (etic)
    11. Mengadakan verifikasi melalui kasus yang bertentangan (analisis kasus negatif).
    12. Sampel dipilih secara purposif
    13. Menggunakan audit trail, yaitu memeriksa data mentah, analisis,dan kesimpulan kepada pihak lain, biasanya pembimbing
    14. Partisipasi peneliti tidak mengganggu natural setting
    15. Analisis data dilakukan sejak awal sampai penelitian berakhir
    16. Desain penelitian tampil selama proses penelitian (emergent/sementara)
    Continue Reading
    Newer
    Stories

    About me

    Photo Profile
    M. Farhan

    Follow Us

    • facebook
    • twitter
    • instagram
    • linkedin

    recent posts

    Blog Archive

    • Maret 2019 (15)

    Popular Posts

    • Metode Penelitian Kualitatif: NARATIF
    • Metode Penelitian Kualitatif: ETNOGRAFI
    facebook Twitter instagram

    Created with by BeautyTemplates

    Back to top